CUKUPLAH MENGENALIKU
Palestina bukanlah hanya sekedar siapa yang pantas membela, tapi persoalan siapa yang mau peduli. Palestina bukanlah masalah siapa yang bersaudara terhadap siapa, tapi persoalan siapa yang hendak membantu. Palestina bukanlah persoalan kasihan mengasihani, tapi persoalan siapa yang hendak turun tangan. Serangan bom yang setiap hari mengancam keselamatan jiwa, kelaparan yang setiap saat dapat menghantar mereka ke mulut kematian. Sedang anak-anak tidak lagi mengenali dunianya, dunia berfantasi bermain dengan berbagai permainan anak-anak digantikan dengan dunia realita bermain dengan kematian. Itulah sekelumit tentang Palestina.
Sedang ia, Rachel Corrie. Seorang wanita kebangsaan Amerika. Bangsa yang sangat dibenci umat Islam dan seluruh manusia terutama mereka yang peduli terhadap penjajahan tanah Palestina. Berdiri begitu tegasnya, dengan suara lantang menentang aksi militer Israel terhadap Palestina.
Tepat tanggal 16 Maret 2003, sebuah peristiwa yang dikenang oleh dunia terjadi. Kematian tragis atas nama pembelaan untuk mereka yang tertindas. Dibawah roda besi buldoser Israel, jasad Corrie menjadi sejarah tanah Palestina dan seluruh aktivis kemanusiaan. Begitulah akhirnya.
Namun pada mulanya, Januari 2003 Rachel Corrie bersama seluruh relawan kemanusiaan yang tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM), yang bersatu untuk meneriakkan kata “merdeka” di seluruh belahan bumi, berangkat menuju Israel dan transit ke Tepi Barat. Sesampainya di tanah Palestina tersebut, yang disaksikannya sungguh ironi. Sebuah kesaksian yang sungguh menyayat hati siapa saja yang melihat. Tank, bulldozer, menara-menara sniper, pos-pos penjagaan Israel, serta tembok baja raksasa, semuanya berdiri tegak di atas puing-puing kediaman rakyat Palestina.
Kekejaman ini tak semata perbuatan Israel, akan tetapi sokongan dari Negara Amerika. Seperti yang tercatat dalam cacatan hariannya, Rachel Corrie mengatakan, “Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggir pikiranku…” begitulah Corrie mencurahkan perasaan akan keasingan bangsanya bagi dirinya sendiri.
Perjuangannya untuk membantu masyarakat Palestina sungguh luar biasa. Dengan keberanian ia hadang sniper-sniper Israel yang selalu mengawasi dan kapan saja bisa terlepas dan mengenai siapa saja yang mereka sukai. Demi membasahi tenggorokan wajah-wajah lusuh rakyat Palestina, Rachel Corrie dan rekan-rekannya berani berdiri melindungi para penggali sumur.
Dengan begitu nekat, selama di Raffah, Rachel Corrie sengaja menempati rumah-rumah rakyat Palestina yang menjadi incaran tentara Israel. Menurutnya adalah sebuah hak yang semestinya bagi rakyat Palestina untuk hidup aman di rumah mereka, di sekolah, bahkan di dalam bis sekalipun. Karena baginya, tak ada hak siapapun untuk memusnahkan bangsa lain, apapun dalihnya, termasuk alasan pendirian Negara illegal Israel dan perluasan wilayahnya dengan memusnahkan masyarakat yang bermukim di daerah perbatasan.
16 Maret 2003, sekitar jam 5 sore, dua buah bulldozer meraung-raung melintas yang diikuti oleh tank-tank. Hingga pada akhirnya salah satu bulldozer D9R siap meluluh-lantahkan rumah salah satu keluarga. Dengan lantang Rachel Corrie berusaha menghentikan bulldozer tersebut, akan tetapi jeritan suaranya beserta para aktivis lainnya, bak tertelan oleh gemuruh suara bulldozer yang semakin bergairah untuk menjadikan rumah tersebut menjadi puing-puing tak beraturan.
Melihat aksi militer Israel yang tak menggubris jeritan mereka, Rachel Corrie pun tak menyerah, ia memanjat gundukan tanah tepat di hadapan bulldozer tersebut. Akan tetapi na’as, seorang Rachel Corrie tak mampu melunakkan hati militer Israel tersebut. Ia pun terjatuh dan terseret pisau bulldozer. Melihat kejadian tersebut, tentara Israel tak lantas menghentikan bulldozernya, walhasil jasad pejuang kemanusiaan asal Amerika ini remuk di bawah rantai-rantai baja roda bulldozer.
Hal itu tak lantas membuat perjuangan berakhir saat itu juga, Corrie yang lain akan muncul. Cukuplah kalian mengenaliku (Rachel Corrie) untuk tetap membuat perjuangan membela kemanusiaan dan hak untuk merdeka dibelahan bumi ini. Terutama membela permasalah Palestina. Jangan tertipu akan permainan politik, sebab yang terjadi di Tanah Palestina adalah permasalahn penjajahan kemanusiaan dan merampas hak untuk hidup dengan layak.
Hentikan tangis ketakutan, kelaparan, serta tangis kehilangan sanak saudara dan harta benda di tanah Palestina dengan mengusir para Zionis.
Palestina bukanlah hanya sekedar siapa yang pantas membela, tapi persoalan siapa yang mau peduli. Palestina bukanlah masalah siapa yang bersaudara terhadap siapa, tapi persoalan siapa yang hendak membantu. Palestina bukanlah persoalan kasihan mengasihani, tapi persoalan siapa yang hendak turun tangan. Serangan bom yang setiap hari mengancam keselamatan jiwa, kelaparan yang setiap saat dapat menghantar mereka ke mulut kematian. Sedang anak-anak tidak lagi mengenali dunianya, dunia berfantasi bermain dengan berbagai permainan anak-anak digantikan dengan dunia realita bermain dengan kematian. Itulah sekelumit tentang Palestina.
Sedang ia, Rachel Corrie. Seorang wanita kebangsaan Amerika. Bangsa yang sangat dibenci umat Islam dan seluruh manusia terutama mereka yang peduli terhadap penjajahan tanah Palestina. Berdiri begitu tegasnya, dengan suara lantang menentang aksi militer Israel terhadap Palestina.
Tepat tanggal 16 Maret 2003, sebuah peristiwa yang dikenang oleh dunia terjadi. Kematian tragis atas nama pembelaan untuk mereka yang tertindas. Dibawah roda besi buldoser Israel, jasad Corrie menjadi sejarah tanah Palestina dan seluruh aktivis kemanusiaan. Begitulah akhirnya.
Namun pada mulanya, Januari 2003 Rachel Corrie bersama seluruh relawan kemanusiaan yang tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM), yang bersatu untuk meneriakkan kata “merdeka” di seluruh belahan bumi, berangkat menuju Israel dan transit ke Tepi Barat. Sesampainya di tanah Palestina tersebut, yang disaksikannya sungguh ironi. Sebuah kesaksian yang sungguh menyayat hati siapa saja yang melihat. Tank, bulldozer, menara-menara sniper, pos-pos penjagaan Israel, serta tembok baja raksasa, semuanya berdiri tegak di atas puing-puing kediaman rakyat Palestina.
Kekejaman ini tak semata perbuatan Israel, akan tetapi sokongan dari Negara Amerika. Seperti yang tercatat dalam cacatan hariannya, Rachel Corrie mengatakan, “Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggir pikiranku…” begitulah Corrie mencurahkan perasaan akan keasingan bangsanya bagi dirinya sendiri.
Perjuangannya untuk membantu masyarakat Palestina sungguh luar biasa. Dengan keberanian ia hadang sniper-sniper Israel yang selalu mengawasi dan kapan saja bisa terlepas dan mengenai siapa saja yang mereka sukai. Demi membasahi tenggorokan wajah-wajah lusuh rakyat Palestina, Rachel Corrie dan rekan-rekannya berani berdiri melindungi para penggali sumur.
Dengan begitu nekat, selama di Raffah, Rachel Corrie sengaja menempati rumah-rumah rakyat Palestina yang menjadi incaran tentara Israel. Menurutnya adalah sebuah hak yang semestinya bagi rakyat Palestina untuk hidup aman di rumah mereka, di sekolah, bahkan di dalam bis sekalipun. Karena baginya, tak ada hak siapapun untuk memusnahkan bangsa lain, apapun dalihnya, termasuk alasan pendirian Negara illegal Israel dan perluasan wilayahnya dengan memusnahkan masyarakat yang bermukim di daerah perbatasan.
16 Maret 2003, sekitar jam 5 sore, dua buah bulldozer meraung-raung melintas yang diikuti oleh tank-tank. Hingga pada akhirnya salah satu bulldozer D9R siap meluluh-lantahkan rumah salah satu keluarga. Dengan lantang Rachel Corrie berusaha menghentikan bulldozer tersebut, akan tetapi jeritan suaranya beserta para aktivis lainnya, bak tertelan oleh gemuruh suara bulldozer yang semakin bergairah untuk menjadikan rumah tersebut menjadi puing-puing tak beraturan.
Melihat aksi militer Israel yang tak menggubris jeritan mereka, Rachel Corrie pun tak menyerah, ia memanjat gundukan tanah tepat di hadapan bulldozer tersebut. Akan tetapi na’as, seorang Rachel Corrie tak mampu melunakkan hati militer Israel tersebut. Ia pun terjatuh dan terseret pisau bulldozer. Melihat kejadian tersebut, tentara Israel tak lantas menghentikan bulldozernya, walhasil jasad pejuang kemanusiaan asal Amerika ini remuk di bawah rantai-rantai baja roda bulldozer.
Hal itu tak lantas membuat perjuangan berakhir saat itu juga, Corrie yang lain akan muncul. Cukuplah kalian mengenaliku (Rachel Corrie) untuk tetap membuat perjuangan membela kemanusiaan dan hak untuk merdeka dibelahan bumi ini. Terutama membela permasalah Palestina. Jangan tertipu akan permainan politik, sebab yang terjadi di Tanah Palestina adalah permasalahn penjajahan kemanusiaan dan merampas hak untuk hidup dengan layak.
Hentikan tangis ketakutan, kelaparan, serta tangis kehilangan sanak saudara dan harta benda di tanah Palestina dengan mengusir para Zionis.
Aladdin 2-0 - Ali Babah No 2 - Aladdin 1st in the
BalasHapusAladdin air jordan 18 retro red suede from us 2-0. The first, what is the best air jordan 18 stockx to the third, in the beginning, air jordan 18 retro yellow good site is the story of King Ali Babah. This, in air jordan 18 retro men red store a world where no one is really air jordan 18 retro men outlet involved