"Santo Paulus dalam salah satu suratnya mengatakan bahwa hukum agama adalah kutukan dan Yesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu. Apa sejatinya makna surat tersebut?” Umar Lahmi berkata.
“Tanyakan soal tersebut pada beberapa rahib dan lihat apa jawaban mereka. Tapi pertama-tama katakan padaku apa keberatanmu mengenai perkataan Santo Paulus tersebut?” tanya Muaz.
“Inti permasalahannya ialah ketika hukum agama dianggap sebagai kutukan, dan Yesus Kristus diturunkan ke bumi untuk membebaskan kutukan itu, maka pencuri, pezina, orang-orang durhaka terhadap orang tuanya akan diperbolehkan dalam agama Kristen, meskipun tak seorang Kristen pun percaya bahwa orang-orang tersebut diperbolehkan dalam agama Kristen.”
Kutipan di atas merupakan sedikit se-bait percakapan dua orang pemuda Muslim yang tertulis dalam novel yang berjudul “Isabella”. Isabella adalah judul sebuah novel religi yang menceritakan tentang perjuangan seorang gadis keturunan Spanyol dalam menemukan kebenaran keyakinannya. Judul buku itu diambil dari nama gadis jelita yang memiliki dua bola mata yang indah itu. Namun, keanggunannya, bukan terletak pada kejelitaan parasnya. Keanggunannya justru terletak pada balutan keyakinannya yang teguh menjaga kesuciaannya, layaknya sosok Bunda Maria yang dikaguminya itu.
Sebenarnya, Isabella adalah seorang gadis Kristen fanatik. Ia anak seorang Kepala Pendeta Kristen di Cordova yang beraliran kaku dan ortodoks. Terlahir sebagai anak kepala Pendeta yang terkenal di seantero Spanyol membuatnya selalu dituntut untuk menjadi wanita suci, termasuk dengan tidak menikah.
Posisinya sebagai anak kepala Pendeta membuatnya begitu bersemangat dalam menuntut ilmu agama. Ia bersekolah disekolah agama ternama di daerah itu dan sangat serius mendalami ilmu teologi serta aktif dalam kegiatan keagamaan.
Berawal dari ketidaksengajaannya mendengar perbincangan dua orang pemuda Muslim bernama Umar Lahmi dan Muiz yang sedang berdiskusi di taman tentang keraguan mereka terhadap surat Santo Paulus yang merupakan ajaran Injil yang membuat Isabella sedikit gusar. Isabella pun berpikir keras untuk menemukan jawaban agar dapat menyanggah keraguan dua pemuda tersebut tentang kebenaran Injil.
Akan tetapi, perbincangan Umar Lahmi dan Muiz telah sampai ditelinga para pendeta. Sehingga, para pendeta pun ikut gusar. Betapa tidak, perbincangan tersebut dinilai mengancam keimanan para Jemaat Kristiani. Dan, akhirnya, mereka pun berniat untuk melakukan dialog, agar hal tersebut tidak meresahkan umat Kristiani. Dialog pun segera dilangsungkan. Kedua pemuda Muslim tersebut diundang ke Gereja untuk berdialog tentang keabsahan surat Santo Paulus dihadapan para Pendeta Cordova dan juga disaksikan oleh Umat Kristiani.
Pembeberan tentang kepalsuan surat Santo Paulus, yang dibenarkan dalam Injil pun dikemukakan oleh Umar Lahmi dengan gambling dengan menggunakan dalil yang berasal dari Injil sendiri. Dialog ini pun memanas dan berlanjut hingga membahas semua kesalahan-kesalahan ajaran dalam Kristen. Ketidakberdayaan para pendeta untuk menjawab setiap pertanyaan Umar Lahmi, diam-diam membuat Isabella mulai menaruh simpati pada ajaran Islam. Rasa penasarannya terhadap Islam pun berujung pada penemuannya akan kebenaran yang hakiki yakni tauhid. Dan, ia pun hijrah menjadi seorang Muslimah yang taat menghadapi berbagai penderitaan, termasuk siksaan yang dijatuhkan pihak Gereja atas kemurtadannya. Akan tetapi, hal itulah yang justru menumbuhkan keimanan dalam hatinya, hingga semakin tak tergoyahkan.
Kisah itu merupakan karya dari Maulana Muhammad Saeed Dehlvi. Ia seorang penulis kelahiran Pakistan. Karyanya kali ini merupakan sebuah novel studi komparatif tentang ajaran Islam dan Kristen. Melalui novelnya ini, ia memaparkan kepalsuan Injil sebagai Kitab Suci umat Kristiani dan kerancuan konsep tauhid trinitas serta manipulasi konsep penebusan dosa yang dicetuskan oleh para Pendeta Kristen. Dengan begitu lihai, ia meramu penjelasan-penjelasan yang mengesankan untuk meluruskan ajaran dan ideologi Kristen yang melenceng. Selain itu, ia juga tidak lepas untuk memberikan jawaban-jawaban yang begitu akurat dan sangat objektif terhadap pertanyaan-pertanyaan atau bantahan umat Kristiani terhadap Al-Quran dan seputar Nabi Muhammad.
Kisah yang sangat menarik Sebuah perjalanan spiritual yang mengesankan. Gambaran keteguhan keimanan ditengah kondisi yang sangat sulit, menghadapi siksaan dan hinaan masyarakat.
Isabella disini bukan hanya sebuah tokoh. Namun, ia adalah sebuah simbol. Simbol keteguhan iman di tengah derasnya hujatan dan hinaan kepadanya. Ia juga adalah symbol kerelaan dan ketulusan untuk berpaling kepada kebenaran, walau sebelumnya terasa begitu jauh darinya; dari seorang anak kepala Pendeta Kristen menjadi seorang Muslimah yang taat. Ia memberikan semangat bagi pembaca, terutama kalangan wanita Muslimah, dalam memperjuangkan keimanannya ditengah berbagai cobaan hidup.
Buku kecil ini juga mengandung nilai-nilai tauhid yang mendalam. Karenanya, penulis tak ragu untuk menyebu novel ini sebagai sebuah novel teologis.
Isabella, karya yang pada mulanya ditulis dalam Bahasa Urdu ini kemudian diterjemahakan dalam Bahasa Inggris, lalu bahasa Melayu. Dan, kini ia hadir dalam Bahasa Indonesia yang disajikan dalam gaya bahasa yang ringan. Karya besar akan perbandingan agama Islam dan Kristen dengan pemaparan yang dikemas praktis dan logis serta sentuhan cerita dengan alur yang sangat menyentuh. Sebuah novel yang hadir sebagai jalur dakwah yang sangat efektif dan dapat dijangkau oleh semua kalangan. Dan, yang terpenting, novel ini sepatutnya dipahami sebagai referensi untuk saling mengenal dan mendekatkan Islam dan Kristen atas nama toleransi beragama. Bukan justru untuk mempertentangkan keduanya.
Rabu, 16 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
First casino bonus codes 2020, free spins no deposit - Kookoo
BalasHapusFirst 10cric casino bonus codes 2020, free spins no deposit クイーンカジノ 2021, free spins no deposit 2021, free spins no 퍼스트 카지노 deposit 2021.